Judul Novel : Salah Pilih
Nama Pengarang : N.
ST. Iskandar
Tahun Terbit : 2000
Cetakan : Cetakan
Ke Dua Puluh
Jumlah Halaman :
232
Nur Sutan Iskandar ketika kecil bernama Muhammad
Nur. Setelah menikah diberi gelar Sutan Iskandar, sesuai dengan adat
Minangkabau. Pengarang ini lahir di Sungaibatang, Maninjau, tanggal 3 November
1839 dan meninggal di Jakarta 28 November 1975 dalam usia 82 tahun. Setelah
mendapat pendidikan sekolah Melayu dan bahasa Belanda, ia diangkat menjadi
guru. Sering pula ia menulis untuk surat-surat kabar di Padang. Dia juga
menulis beberapa novel, salah satunya adalah Novel Salah Pilih. Di Novel ini,
menceritakan tentang Asnah, seorang gadis remaja berumur 19 tahun yang tinggal bersama dengan
orang tua angkatnya, Ibu Mariati di rumah gadang. Dan juga tinggal seorang
perempuan tua bernama Sitti Maliah. Ibu
Mariati mempunyai seorang putra yang bernama Asri.
Selama beberapa
tahun, Asri menempuh pendidikan di Jawa dan kembali. Di Jawa, Asri mempunyai
tunangan. Mendengar hal itu, hati Asnah hancur. Karena sudah lama, Asnah memendam rasa kepada
Asri. Namun, pertunangan Asri tidak berjalan baik karena
buruk sifatnya. Saat sampai di kampung, Ibu Mariati memberikan amanah agar Asri
cepat meminang seorang wanita. Menurut adat
suku Mianng, umur seseorang menikah adalah 15 tahun. Jika
lebih dari itu, maka di anggap tua.
Asripun sudah
menentukan siapa wanita yang akan dia lamar. Saniah namanya. Dia tinggal di rumah bercorak di daerah Bukittinngi. Sebelum meminang, Asri meminta pedapat
pada Asnah. Karena bagi Asri, tidak ada wanita yang di kenalnya yang tabiatnya
lebih baik dari Asnah. Asnahpun selalu menjawab, bahwa Saniah adalah perempuan
yang baik. Nyatanya, Saniah hanya perempuan manja dengan tabiat yang buruk
karena mengikuti Bundanya. Waktu lamaranpun, Saniah sudah memberikan perangai
buruk terhadap Asnah, yang membuat Ibu Mariati naik pitam.
Namun, masalah
tidak berhenti disitu. Bahtera rumah tangga Asri dan Saniahpun dari awal sudah
tidak baik. Sifat Saniah yang selalu manja, ingin mengikuti adat, dan membenci
Asnah, karena baginya Asnah adalah penghalang terbesar di rumah gadang itu.
Tapi, Asri selalu menahan amarahnya. Dia ceritakan semua keluh kesahnya kepada
Asnah, dan gadis itu itu selalu memberikan jawaban yang menenangkan hati Asri.
Kesehatan Ibu
Mariati semakin hari semakin memberuk. Sampai pada akhirnya, ajal menjemputnya.
Sebelum meninggal, Ibu Mariati menitipkan pesan kepada Asri, Asnah, dann Ibu
Liah. Bahwa sekiranya ada baiknya jika Asri menikah dengan Asnah. Ibu Liahpun merasa
demikian. Dia sadar, bahwa ada perasaan lebih dari dua sejoli itu. Mendengar
hal itu, merahlah pipi keduanya. Namun, mereka berdua berpura-pura seolah tidak
mengetahui hal itu.
Setelah kematian
Ibu Mariati, Saniah berkuasa di rumah itu.
Belum lagi di tambah dengan pinangan Hasan Basri, teman Asri yang hendak
meminang Asnah. Asripun mulai gelisah dengan keputusan Asnah. Nasib berkata
baik, Asnah menolak pinangan Hasan Basri. Mendengar hal itu, Saniah memaki
Asnah dan mengatakan ahwa Asnah adalah anak yang tidak tahu diri.
Asnah pun pergi
meninggalkan rumah itu dan pergiu
kerumah Bu Mariah, adik Bu Mariati. Asripun kesal dengan Saniah. Rumah tangga mereka yang jauh dari kata bahagia,
membuat Asri memutuskan untuk meminang Asnah. Rangkayo Saleah yang mendengar kabar itu datang kerumah
Saniah, dan Saniah menceritakan semua hal yang dia alami di rumah itu. Mulai dari harta benda yang dikuasi oleh Ibu Mariati,
Asnah yang selalu diperhatikan seisi rumah. Mendengar hal itu, Ragkyo marah.
Diapun menyuruh Saniah untuk kembali kerumah bercorak. Namun, saat mengendarai oto, Saniah merasa berat meninggalkan rumah gadang. Dia tiba-tiba
mengingat semua kesalahan yang dia lakukn kepada Asnah, dan betapa durhakanya
dia selama ini kepasa suaminya sendiri, Asri. Dan benar saja, kejadian buruk
menerka Saniah. Oto yang mereka
kendarai terlempar di belokan jalan yang curam. Saniah dan supir hanya pingsan.
Sedangkan Rangkayo meninggal di tempat. Mendengar
kabar ini, Asri pergi menuju tempat Saniah di rawat. Namun malang, saat Asri
mendengar ucapan permintaan Saniah, nyawanya tidak tertolong.
Sepeninggalannya Saniah, Asri berundingan dengan Bu
Liah tentang keinginanya untuk meminang Asnah. Namun karena adat minang yang
kental, pernikahan itu dilakukan secara diam-diam ditempat Bu Mariah. Asripun
meninggalkan semua harta dan semua yang dia miliki untuk menikahi Asnah dan
menitipkannya kepada Bu Liah. Asri dan Asnahpun pergi merantau ke Jawa. Saat di
kapal, ada warga Minang yang melihat Asri dan Asnah di kapal. Merekapun menjadi
gunjingan di Minanjau. Mengatakan bahwa Asri sudah tidak laku lagi karena
menikahi adik sesukunya.
Mereka merantau di Jakarta. Asripun menjadi sukses
dan mendapatkan jabatan. Ditengah aktifitas mereka yang padat, mereka mendapat
surat dari Mininjau, meminta mereka untuk kembali. Mereka berduapun kembali ke
Minanjau. Disana, mereka sudah diterima baik oleh masyarakat Minanjau.
Dimuali dari Asri yang salah pilih Istri, hingga
akhirnya mendapatkan Asnah yang baik tabiatnya.
kelebihan yang dimiliki dari novel ini adalah penggambaran Asnah yang baik, lemah lembut, dan juga keibuan. Ketika membaca novel ini, seketika saya jatuh cinta dengan sikap Asnah. Tapi disaat yang bersamaan, saya juga tidak menyukai sikap Asnah yang tidak memu membuka diri kepada Asri, sehingga Asri harus menikah dengan perempuan lain. Pengambaran cerita di novel ini bagus! tetapi, terdapat kata-kata yang sulit dipahami.
untuk Novel ini, saya anjurkan dibaca untuk remaja kalangan 16 tahun keatas. Dikarenakan menggunakan bahasa melayu, yang sekiranya lumayan sulit untuk dipahami.
kelebihan yang dimiliki dari novel ini adalah penggambaran Asnah yang baik, lemah lembut, dan juga keibuan. Ketika membaca novel ini, seketika saya jatuh cinta dengan sikap Asnah. Tapi disaat yang bersamaan, saya juga tidak menyukai sikap Asnah yang tidak memu membuka diri kepada Asri, sehingga Asri harus menikah dengan perempuan lain. Pengambaran cerita di novel ini bagus! tetapi, terdapat kata-kata yang sulit dipahami.
untuk Novel ini, saya anjurkan dibaca untuk remaja kalangan 16 tahun keatas. Dikarenakan menggunakan bahasa melayu, yang sekiranya lumayan sulit untuk dipahami.

Komentar
Posting Komentar