Dia Ratu
“Muka jelek kayak gini
mau nembak Ares? Cuih, ngaca lo! Ares mana mau sama muka lo yang bahkan
ga sepadan sama ban mobil gue.” Suara lantang itu memenuhi kelas
sepuluh. Cewek dengan rambut sepinggang dengan aksesoris serba merah
muda itu memandang sengit kearah adik kelas yang sudah ketakutan karena
ucapannya barusan.
“Ta–ta–tapi kak, aku
berhak nemb–” Belum selesai berbicara, gebrakan meja memenuhi seisi
ruangan. Semua pandangan mata menatap ngeri ke arah Ratu. “Sadar! Mulut
lo nggak boleh nyebut nama Ares! Cuman gue yang boleh manggil dia.
Ngerti?”
“Udah Rat,
orang kaia gitu mana ngerti kalau pake omongan. Mending di eksekusi
langsung, biyar kapok.” Cowok dengan rambut berwarna kecokelatan itu
berdiri didepan pintu sambil bermain ponsel. Matanya tidak sedikitpun
menatap kerah dua insan muda yang tengah bersiteru itu.
“Diem deh
Chris, lo nggak usah banyak omong sama mulut busuk lo itu.” Ratu kembali
memandang kearah adik kelas yang tengah ketakutan itu dengan bengis.
Matanya yang sayu itu seolah bisa mengitimidasi siapapun yang ada di
hapadannya. “Chris, mana gunting?”
Chris–cowok itu
menutup ponselnya. Dia berjalan mendekat, kemudian merogoh sesuatu dari
kantungnya dan memberikannya kepada Ratu. Benda lancip itu tampak
bersinar dnegan terang.
“Nah, ini hukuman buat
lo. Lain kali,” Ratu dengan perlahan memotong rambut adik kelas itu
sampai pendek sebahu. Rambut yang awalnya sepinggang itu kini
benar-benar pendek. Bahkan, adik kelas itu sudah menangis sesegukan.
“Ngaca diri dulu ya? Udah pantes atau belum lo nembak Ares. Muka kayak
begini ngarep jadian sama Ares? Ckckc, gue rasa otak lo miring. Oh, atau
lo mau gue kasih duit buat operasi muka sama otak? Eh tapi Ares nggak
suka yang buatan.”
Suara bisik-bisikan itu
memenuhi kelas. Sementara Chris–cowok itu malah asik memakan permen yang
baru saja dia palak dari adik kelas. Dia bahkan tidak merasa kasihan
dengan adik kelas yang sudah di bully Ratu habis-habisan. Justru, dia malah kasihan dengan Ratu. Cewek itu sampai mau repot-repot turun tangan untuk mengusir. Padahal, tinggal menyuruh dirinya sajakan?
Christian Elonel. Badboy
SMU Permata dengan sejuta pesona yang dimilikinya. Cowok keturunan
Indo-Inggris itu tampak mencolok dari teman-teman di sekitarnya.
Walaupun demikian, dia murid paling bermasalah di sekolah. Hampir setiap
hari dia di panggil di ruang BK karena sering tawuran. Jika pada
umumnya siswa akan dikeluarkan, maka pengeculian untuk Chris. Dia cucu
dari salah satu konglomerat yang menyumbangkan sejumlah dana yang
fantastis untuk SMU ini. Cowok itu mempunyai julukan lain, yaitu shinigami* (dewa kematian) Ratu.
Ya, shinigami
Chris–cowok itu tidak
akan segan-segan pada orang yang dia anggap menganggu kehidupan Ratu.
Dia akan hancurkan, sampai keakar-akarnya. Beberapa minggu yang lalu,
bahkan dia membuat seorang siswi terpaksa keluar sekolah dan keluarganya
menjadi gulung tikar kerena perbuatannya.
Ah~ uang memang segalanya.
“Shht! Panggil kak Ares.
Ini udah keterlaluan banget. Kalau ada kak Ridan, pasti si nenek sihir
bakal nurut.” Chris mendengar dengan samar beberapa siswa yang berbicara
demikian. Sepertinya, mereka mau cari mati dengan Chris. Memanggil
Ridan akan membuat Ratu tampak benar-benar masalah. “Cih. Mereka panggil
Ratu nenek sihir? Nggak sadar diri banget.”
“Boss! Gawat! Gawat!
Ares mau kesini. Mukanya merah padan Bos! Kita harus keluar sekarang.”
Leo, cowok dengan rambut cepak itu berbicara dengan tergesa-gesa. Chris
yang mendengarnya mendengus sejenak, kemudan berjalan dan menarik tangan
ratu dengan paksa. “Kita pergi sekarang. Udah cukup, sisanya biyar gue
sama anak-anak yang nyelesain.”
“Apasih Chris?” Ratu memberontak. Dia menolak mentah-mentah ajakan Chris. “Lo nggak berhak buat ngatur-ngatur gue!”
“Ada Ares mau kesini. Apa lo mau dia ngeliat lo kayak gini?”
“Biyarin! Gue enggak
peduli! Urusan gue belum selesai. Bakal gue hancurin ini adik kelas,
buat pelajaran!” Ratu beteriak dengan lantang. Sementara Leo sudah
memberi aba-aba kalau Ridan akan datang.
Chris tidak bisa memaksa
Ratu. Cewek itu pasti akan sangat marah padanya. Bisa-biasa, Ratu akan
mengusirnya seperti hama. Tapi, jika Ares tahu, Ratu pasti akan habis. Imagesnya akan rusak begitu saja didepan Ares. “Rat, Lo boleh nge eksekusi 'ni adik kelas. Cuman, Ares pasti makin ngejauh dari lo.”
Ratu yang awalnya
brutal, kini sudah diam. Tapi bukannya mendengarkan kata Chris, dia
lebih mengikuti amarahnya dan tertawa. “Biarin! Biar Ares lihat! Dia
pasti bakal berterimakasih sama gue! Karena berkat gue, sampah yang ada
di sekitarnya hi–CHRIS! APA YANG LO LAKUIN?!”
Chris mengangkat tubuh
Ratu seperti karung beras. Dia tidak peduli jika cewek itu masih
memegang gunting dan menggoreskan di punggungnya sampai berdarah. Perih,
tapi yang terpenting sekarang adalah Ratu. Dia harus membawanya pergi.
“Chris! Gue bunuh lo! Beneran gue bunuh! Chris, turunin gue. Urusan gue
belum selesai! Busuk! Hama! Aargh!”
“Terserah lo mau ngomong apa.”
***
“Eh, emang korbannya siapa lagi?” Rangga
yang sedang menyesap rokoknya itu langsung mematikannya setelah habis.
Cowok dengan giwang hitam di telinga kirinya itu mencoba mengingat
sebentar. Dia bahkan sudah lupa karena terlalu sering. “Oh, anak kelas
10,” jawab Rangga.
“Cakep nggak?” Leo bertanya lagi. Rangga menggedikkan bahunya. Dia mana tahu dan tidak peduli.“Jelek palingan.”
“Btw, si boss masih disana?” Leo bertanya lagi,
membuat Rangga jengkel. Temannya yang satu ini benar-benar cerewet
seperti perempuan. “Lu tanya sekali lagi, gue gampar mulut lu.”
“Santai
aja Mas. Dedek kan jadi takut.” Rangga semakin geram. Kalau saja Leo
bukan sahabat karibnya, sedari tadi sebuah pukulan akan mendarat di pipi
mulus Leo yang seperti bayi. Ya, seperti bayi. Karena Leo tidak suka
bertengkar, tapi lebih suka bermain cewek. Tidak masalah jika dikatai
banci sebagian orang. Toh, salah cewek-cewek itu juga karena mau bujuk rayuannya–yang sudah ketahuan kalau dia playboy.
“Lu
punya duit nggak?” kini giliran Rangga yang bertanya. Leo mengorek dari
saku celananya. Hanya dua koin 500 rupiah dan sebuah pulpen. Pulen?
Bahkan dia sendiri tidak ingat memasukan pulpen itu. “Lo punya puplen?”
tanya Rangga.
“Ga tahu. Gue aja baru tahu kalau kalau gue punya pulpen.”
“Cuman
punya seribu? Beneran nggak ada lagi?” Rangga bertanya sekali lagi, dan
Leo menggeleng. “Minta sama boss, pasti di kasih. Buat beli rokok
'kan?”
“Tuh tahu. Mau juga?”
“Boleh.”
“Yaudah, nanti beli bareng.”
Saat
mereka sedang berbincang, dua siswi melewati mereka dengan wajah yang
panik. Mereka mengatan beberapa hal yang membuat Leo dan Rangga
bersiap-siap. “Si anabele ribet banget. Masuk kelas orang sambil teriak-teriak, kaia ga pernah di ajarin.”
“Namanya juga anabele,
jelek. Heran, cewek kaia gitu hidupnya sempurna banget.” Cewek dengan
rambut sebahu memutar bola matanya malas. Bahkan, mereka tidak mau
menyebut nama Ratu. Seolah, itu adalah hama. “Cuman kelakuannya
kampungan, langsung main adu 'jotos'.”
“Untung
bentar lagi lulus.” Mereka tidak sadar melewati dua pentolan sekolah.
Kini, Rangga sudah memandang mareka dengan senyum, diikuti dengan Leo
yang menatap mereka. Dan seketika itu juga, kedua siswi itu mereka
beruntung dan sial secara bersamaan. Senang karena bertemu dua dari lima
pangeran sekolah, dan sial karena petaka akan datang.
.
.
.
.
.
Bersambung.

Komentar
Posting Komentar