1. Masa Anak-Anak
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong sebuah kota kecil yang masuk dalam wilayah Karisidenan Jepara dari pasangan Raden Mas (R.M.) Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Kartini lahir dalam lingkungan keluarga priyayi dan bangsawan, karena itu ia berhak menambahkan gelar Raden Ajeng (R.A.) di depan namanya. Kartini memilih untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya, hal ini terlihat dari isi suratnya bertanggal 25 Mei 1899, ‘Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku’. Surat tersebut ditujukan kepada Estelle Zeehandelaar.
Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati Jepara. Ibu kartini yang bernama M.A. Ngasirah, beliau ini merupakan anak seorang kiai (rakyat biasa) atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Peraturan kolonial Belanda ketika itu mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan juga. Hingga akhirnya ayah Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura ketika itu.
Pertumbuhan fisik dan motorik Kartini berjalan lebih cepat dibanding anak-anak lainnya. Usia 8 bulan Kartini sudah mampu untuk berjalan sendiri, karena itu R.M. Sosroningrat melakukan upacara Tedak Sinten. 9 Pertumbuhan fisik Kartini diikuti juga dengan berkembangnya tingkat kecerdasan dalam berpikir, yang ditunjukan dengan sifat selalu ingin tahu.
Sejak kecil Kartini dikenal sebagai anak lincah yang sangat aktif bergerak, sebagaimana diceritakan dalam suratnya kepada Estelle Zeehandelaar tanggal 18 Agustus 1899: “Saya disebut kuda kore atau kuda liar. Karena saya jarang berjalan, tetapi selau melompat atau melonjak-lonjak. Dan karena sesuatu dan lain hal lagi saya dimaki-maki juga sebab saya sering sekali tertawa terbahak-bahak dan memperlihatkan banyak gigi yang dinilai perbuatan tidak sopan“ (Sutrisno, 2014:15).
Surat tersebut seolah-olah membenarkan tindakan ayah dan kakaknya yang memberi gelar Trinil,10 sehingga sering dipanggil dengan sebutan “Nil“. Panggilan tersebut kurang disukai oleh Mas Ajeng Ngasirah, karena itu adik-adiknya dilarang memanggil dengan sebutan Trinil atau Nil.
2. Masa Sekolah
Ayahnya menyekolahkan anaknya di ELS (Europese Lagere School), sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anakanak Bangsa Eropa dan Belanda Indo. Anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS hanya anak yang orang tuanya menjadi pejabat tinggi pemerintah. Kartini mempunyai sifat luwes, periang, dan pandai. Kegiatan belajar di ELS mampu diikuti dengan baik, bahkan Kartini termasuk siswa cerdas yang mampu bersaing dengan siswa lainnya. Keberadaan Kartini di ELS menarik perhatian banyak orang Eropa, karena menjadi siswa pribumi yang mampu berbahasa Belanda dengan baik. Kemampuan tersebut diperoleh dengan cara rajin membaca buku dan koran berbahasa Belanda, serta mempraktekan bahasa belanda pada saat bermain dan menemui tamu-tamu bangsa Belanda yang datang di kabupaten (Soeroto, 1982: 44).
Pelajar pribumi di ELS sering mendapatkan perlakuan diskriminatif, murid dan guru dari Belanda memandang rendah pelajar pribumi. Perlakuan tersebut tidak mengendurkan semangat Kartini untuk terus belajar.
Dalam usia yang masih belia Kartini sudah mengenal dan memahami pemikiran dan perjuangan pejuang wanita dari India Pundita Ramambai. Driumai juga ia belajar membaca Al-quran, bahasa jawa, menyulam dan menjahit. Orang tua Kartini berusaha memberikan pendidikan yang seimbang antara otak dan ahlak, sehingga dihasilkan anak-anak berkualitas (Soeroto, 1982 : 37).
Persahabatan dengan Letsy menyadarkan Kartini akan pentingnya terus belajar dan memiliki cita-cita. Sejak memasuki sekolah Letsy sudah merencanakan kelak akan menjadi guru, yang akan berdiri di depan kelas mengajar anak muridnya.
3. Pemikiran-Pemikiran RA Kartini Tentang Emansipasi Wanita
Meskipun berada di rumah, Ia aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda. Ia mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca. Ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi. Dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu. RA Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan eropa yang menjadi langganannya yang berbahasa belanda.
Di usiannya yang ke 20, banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt. Ia juga membaca berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda. RA Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita melihat perbandingan antara wanita eropa dan wanita pribumi. Iajuga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum. Cita-cita luhur RA Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Teman wanita Belanda nya Rosa Abendanon, dan Estelle “Stella” Zeehandelaar juga mendukung pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh RA Kartini.
4. Pernikahan RA Kartini Hingga Wafatnya
Pada tahun 1903 pada saat RA Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri
Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya yang pertama, RA Kartini kemudian wafat pada tanggal 17 September 1904. Di usianya yang masih sangat muda yaitu 24 tahun. Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.
Berkat perjuangannya kemudian pada tahun 1912, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya.
Daftar Pustaka:
Prof. Dr. Djoko Marihandono,Nur Khozin Dri Arbaningsih, Dr. Yuda B. Tangkilisan., Sisi lain Kartini, hlm. 5-11.
https://www.biografiku.com/biografi-ra-kartini/#forward
Komentar
Posting Komentar